Selasa, 20 Juli 2010

Seputar Piala dunia 2010

Gagal Hattrick Robben Trauma


Untuk ketiga kalinya, Belan­da gagal mengakhiri final Piala Dunia dengan kemenangan. Ke­gagalan ini rupanya mem­buat skuad Der Oranje trauma, terutama Arjen Robben.

Belanda ditaklukkan Spa­nyol 0-1 dalam laga final yang di­gelar Senin (12/7) dinihari. Ke­tatnya laga membuat kedua tim men­jalani babak extra time. Ironis­nya, Sneijder dkk kema­su­kan gol lewat Andres Iniesta di beberapa menit terakhir jelang babak tam­bahan kedua berakhir.

Belanda sebenarnya punya kesempatan untuk membuat gol dulu lewat beberapa pelu­ang yang diciptakan Arjen Rob­ben. Sayang, sayap Bayern Muenchen itu kurang tenang saat sudah berhadapan one-on-one dengan kiper Iker Casillas. Padahal, Robben dua kali pu­nya kesempatan seperti itu.

“Saya akan terus memiki­r­kan hari-hari seperti saat ini. Sung­guh menyakitkan ketika kami kehilangan kesempatan,” ujar Robben di situs resmi FIFA.

Tak hanya Robben, pelatih Bert Van Marwiijk pun juga me­rasa trauma dengan keka­lah­an tim besutannya. Mar­wiijk terlihat kurang mood saat memimpin pasukannya meng­unjungi Perdana Menteri Peter Balkenende dan Ratu Beatrice. “Pikiran ini terus ada dalam ke­pala saya. Sebab kami begitu de­kat (dengan juara). Kami seharusnya bisa menang,” tan­das Van Marwijk kepada AD Sportwelerd.

Skuad Oranye pantas trauma dan kecewa karena mereka ha­rus menunggu selama 32 tahun untuk tampil di final. Belanda pernah mencapai final Piala Du­nia pada tahun 1974 dan 1978. Pada tahun 1974 mereka kalah oleh Jerman Barat 2-1, lalu pada tahun 1978 gi­liran Ar­gen­tina yang men­jung­kal­kan mereka dengan skor 3-1.

Tak hanya ga­gal juara, per­for­ma Belanda sela­ma Piala Du­nia Afsel ju­ga ter­coreng de­ng­an pe­nam­­pilan kasar yang di­tun­jukkan me­reka. Ketika tim juara Spa­nyol dinobatkan se­bagai tim Fair Play, Belanda ter­catat sebagai tim paling “ko­tor”. Ba­gaimana tidak, Der Oranje menjadi tim ter­banyak yang meneirima kartu kuning (22) dan tim yang pa­ling ba­nyak melakukan pe­langgaran selama Piala Dunia Afsel (126 kali).


Prandelli Kritik FIFA

Piala Dunia 2010 di tanah Af­rika telah berakhir dengan me­nyisakan banyak kisah kon­troversi. Pelatih baru Italia Ce­sa­re Prandelli angkat bicara me­ngenai hal tersebut.

Menurutnya, memang sudah saatnya beberapa perubahan da­lam peraturan sepakbola di­lakukan, mulai dari pengguna­an teknologi sampai waktu per­tandingan.

Kepemimpinan wasit diper­ta­nyakan di Piala Dunia 2010 ka­rena adanya beberapa kepu­tu­san yang dinilai tak tepat. Be­berapa contohnya dapat dilihat mengenai perkara gol Inggris ke gawang Jerman dan gol Ar­gentina ke gawang Meksiko, yang mana keduanya terjadi di babak 16 besar.

Akibat blunder wasit terse­but, FIFA pun jadi sorotan pub­lik dan akhirnya berjanji akan meninjau ulang penggunaan teknologi dalam pertandingan, padahal sebelumnya mereka menentang hal tersebut, tak terkecuali Pr­e­siden FIFA Sepp Blatter.

Prandelli setuju dengan peng­g­unaan teknologi ini. “Teknologi harus dipergunakan. Wasit harus­nya memiliki sebuah mikrofon se­hingga kita semua bisa mende­ngar apa yang dia putuskan,” tukas Prandelli di Football Italia.

Suksesor Marcello Lippi ter­sebut menilai bahwa FIFA ti­dak belajar dari kesalahan masa lalu karena menolak pengguna­an teknologi video untuk mem­ban­tu wasit dalam memutuskan.

“Anda harus bilang bahwa teknologi video sudah eksis. Li­hat saja final Piala Dunia 2006 di Berlin, terkait diusir­nya Zinedine Zidane. Ofisial keempat bilang kepada wasit apa yang terjadi setelah dia me­lihat tayangan ulang di monitor. Mereka tak mengakui hal itu, tapi inilah yang terjadi,” papar bekas pelatih Fiorentina itu.

Pelatih yang diharapkan suk­ses melakukan regenerasi pe­main di timnas Italia tersebut pun punya usulan lain terkait for­­mat waktu pertandingan yang selama ini berlaku 2x45 me­nit. “Kita harusnya punya pe­riode pertandingan 2x30 menit, di mana waktu hanya berjalan saat bola sedang dimainkan. Se­perti yang dilakukan di olah­raga basket,” pungkasnya.



Mudik Skuad Oranye Dikawal Dua Jet F-16


PESAWAT YANG MENGANGKUT SKUAD BELANDA SETELAH PULANG DARI AFSEL DIKAWAL DENGAN JET F-16




Jakarta, RMOL. Gagal meraih trofi Piala Du­nia, pemain Belanda tetap men­dapat sambutan luar biasa keti­ka mendarat di Bandara Schi­phol, Amsterdam. Bahkan, sam­butan itu sudah diberikan ketika rombongan masih di udara.

AFP kemarin melansir, ar­ma­da Belanda menggunakan pe­sawat KLM Boeing 777 de­ng­an gambar bendera Belanda di bagian depan. Pesawat ter­sebut mendapat pengawalan dua jet tempur F-16, satu di an­taranya berwarna oranye.

Dentuman meriam langsung meledak ketika pesawat men­darat pada pukul 5.20 sore wak­tu setempat. Bukan itu saja, ke­tika pemain menjejakkan ka­ki di Bandara, mereka melin­tasi karpet oranye menuju rua­ng­an kedatangan.

Ratusan karyawan di Ban­da­ra Schiphol menghentikan pe­ker­jaan mereka agar bisa men­dekat ke arah pemain sekadar ber­foto bersama. Pemain pun mendapat kalungan bunga.

Sekelompok fans fanatik Be­landa yang dikenal dengan se­bu­tan Oranje Elftal (Orange Ele­ven) sudah mendatangi Ban­dara dengan harapan bisa memberikan pujian kepada pe­main. Namun mereka tak bisa mendekat, dan harus puas me­nyak­sikan pemain kesayangan­nya dari jarak jauh.

Setelah melakukan wawan­cara dengan ratusan wartawan, para pemain dengan menggu­na­kan bus kemudian menuju sebuah hotel di tepi kota Noor­dwijk untuk berkumpul dengan keluarga.

Awalnya pemain akan diang­kut oleh helikopter. Tapi karena situasi tak memungkinkan, me­re­ka memilih naik bus.

Kemarin pagi, pemain dija­mu Ratu Beatrix dan Perdana Menteri Jan Peter Balkenende di Hague. Siang harinya, mere­ka diberikan penghormatan khusus dengan diarak di atas perahu di kanal Amsterdam, serta penghargaan khusus yang akan dihadiri puluhan ribu fans Belanda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar