Selasa, 20 Juli 2010

Seputar Piala dunia 2010

Gracias Afsel!

Secara umum negara baru berkembang itu cukup sukses menyelenggarakan Piala Dunia yang glamour. Tak ada ungkapan terdalam selain mengucapkan terima kasih, gracias begitu kata skuad Spanyol yang beruntung kali ini.

Memang sejak putaran final dihelat, “bunyi-bunyian” tentang kekurangan Afsel senyaring Vu­vuzela. Mulai dari buruknya tran­s­portasi, akomodasi sampai ma­sa­lah keamanan. Tapi bagi penik­mat bola sejati, Afrika Se­latan me­nyi­sakan catatan-catatan “aneh” dan momen yang sangat mene­gang­kan. Itulah mengapa publik dunia pantas memberikan kata terima kasih kepada Afrika Selatan.

Adapun fakta baru Piala Dunia 2010 dimulai dari feno­me­na Af­rika Selatan sebagai wa­kil per­tama benua Hitam yang di­tunjuk FIFA sebagai tuan ru­mah. Ya, dari 19 edisi Piala Du­nia, Afsel mencatatkan diri seba­gai tuan rumah pertama dari Afrika.

Gelar perdana juga ditorehkan Spanyol yang mengalahkan Be­landa 1-0 di babak final. Setelah 12 kali gagal, La Furia Roja ak­hir­nya mampu menggenggam tro­fi juara dunia pertamanya di partisipasi ke-13. Selain itu, Iker Casillas dkk juga mencatatkan diri sebagai tim pertama yang mampu menjadi juara usai takluk di laga perdana.

Seperti diketahui, ketika mere­ka  memulai perjuangan di Afsel, Spanyol dipaksa kalah 0-1 dari Swiss di penyisihan Grup.

Selain tuan rumah dan juara per­dana, yang juga menarik un­tuk disimak tentu terciptanya gol, kartu merah, kuning serta tim yang pertama kali mengikuti ajang bergengsi di jagad raya.

Menurut data dari berbagai sum­ber, gol pertama di Piala Du­nia 2010 tercatat dicetak oleh pe­main tuan rumah, Siphiwe Tsha­balala yang membawa Afsel meng­ungguli Meksiko di menit ke-55. Sayang, gol perdana Tsa­balala tak mampu membawa tim­nya meraih angka penuh. Ba­fana-Bafana dipaksa berbagi ang­ka di laga pembuka setelah Rafael Marquez mencetak gol bal­asan dan memaksakan laga di­akhiri dengan skor 1-1.

Sementara untuk pemain per­tama yang mencetak gol bunuh diri dicatatkan atas nama Simon Poulsen saat Denmark menyerah 0-2 dari Belanda di laga pertama babak penyisihan Grup E. Se­dang­kan gol pertama yang ter­cipta melalui tendangan penalti dilesakkan bomber Ghana, Asa­moah Gyan menyusul handball yang dilakukan pemain Serbia, Zdravko Kuzmanovic. Ghana pun menang 1-0.

Setelah dua laga pembuka ber­akhir imbang (Afsel 1-1 Meks­i­ko dan Paraguay 0-0 Prancis), Korea Selatan menjadi tim perta­ma yang mampu meraih angka penuh. Skuad Taeguk Warriors meraih tiga angka pertamanya usai membungkam jawara Eropa 2004, Yunani 2-0.

Untuk urusan kartu, pemain per­tama yang mencatatkan diri­nya sebagai korban kartu merah wasit adalah pemain Uruguay, Nicolas Lodeiro. Lodeiro mene­ri­ma kartu merah langsung dari wasit saat Uruguay bermain im­bang 0-0 melawan Prancis. Se­mentara Itumeleng Khune men­jadi kiper pertama yang meneri­ma kartu merah. Khune dikartu merah wasit Massimo Busacca, saat Afsel ditekuk Uruguay, tiga gol tanpa balas.

Terakhir, yang juga menarik untuk disimak adalah tim yang harus angkat koper pertama dan tim yang mencatatkan debut pertamanya di Piala Dunia. Untuk tim yang gugur pertama kali adalah Kamerun. Samuel Eto’o dkk harus pulang paling awal setelah tak mampu mence­tak satu pun poin, karena mene­lan tiga kekalahan di tiga laga penyisihan: masing-masing dari Jepang (0-1), Denmark (1-2) dan kalah 1-2 dari Belanda.

Dari 32 kontestan yang tampil, Slovakia mencatatkan diri seba­gai satu-satunya tim yang men­catatkan debut di Piala Dunia usai memecahkan diri dari Ceko­s­lo­va­kia dan membentuk timnas sen­diri pada 1993. Prestasi Slo­vakia da­lam debut perdananya pun ter­bilang mengesankan.


Spanyol Pesta, 18 Miliar Melayang

Pesta besar-besaran menyam­but skuad Spanyol di Madrid usai sukses merebut Piala Dunia untuk kali pertama. Pesta ini diperkirakan akan berlangsung selama 36 jam nonstop.

Seperti dilansir YahooSports, Senin, (12/7), Spanyol tidak akan ting­gal lebih lama di Afrika Se­latan. Mereka segera bertolak ke Madrid, Minggu malam tak lama usai mengalahkan Belanda 1-0 di final Piala Dunia 2010.

Agenda arak-arakan sudah disiapkan untuk menyambut ke­datangan tim La Furia Roja, Se­nin 12 Juli 2010 waktu setempat. Pa­ra pemain akan diarak sepan­jang jalan di Madrid, dan dilan­jutkan bertemu dengan keluarga, petinggi negara, serta anggota Fe­derasi Sepakbola Spanyol (RFEF).

Pasukan Vicente del Bosque di­perkirakan tiba di Bandara Ba­rajas Madrid, Senin siang. Se­te­lah menerima ucapan selamat da­ri Perdana Menteri Jose Luis Za­patero, para pemain akan me­lanjutkan pesta hingga Selasa malam.

“Tidak akan ada orang yang tertidur kali ini. Momen ini sa­ngat spesial, ajaib. Kami akan me­nikmatinya,” ujar kiper seka­ligus kapten tim Iker Casillas.

Usai disambut perdana mente­ri di Istana Moncloa, mereka se­lanjutnya diarak menggunakan bus tanpa atap di sepanjang jala­nan Madrid yang diperkirakan bakal disesaki ratusan ribu massa.

Bus selanjutnya akan berhenti di Principe Pio, sebuah kawasan perbukitan terkenal di sebelah ba­rat Madrid. Di tempat ini, jum­lah massa diperkirakan lebih be­sar. Trofi Piala Dunia dan pemain akan diperlihatkan di tempat ini.

Setelah itu, pemain akan men­jalani jamuan makan di sebuah restoran yang menyajikan maka­nan tradisional Spanyol bersama keluarga, kerabat dan rekan ter­dekat. Pada malam harinya, pes­ta dilanjutkan di sebuah night club ternama di Madrid, New Ga­r­amond. Hanya penerima unda­ng­­an yang bisa hadir di pesta itu.

Pesta belum berhenti. Para pemain akan bangun di pagi buta untuk tampil di berbagai acara pagi televisi. Mereka selanjutnya sarapan di rumah Casillas.

Mereka juga akan menyaksi­kan rekaman pertandingan, dan menerima kunjungan para spon­sor. Setelah itu, pemain pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.

Pesta selama 36 jam nonstop ini diperkirakan menghabiskan biaya hingga $2 juta alias Rp 18 miliar lebih yang sebagian besar digunakan untuk biaya keaman­an. Kendati demikian, angka itu tidak membuat kerugian kepada Pemerintah Spanyol.


Panitia PD 2010 Puas Mandela Pun Senang

Piala Dunia 2010 telah ber­akhir. Spanyol muncul sebagai juara baru setelah menunduk­kan Belanda dengan satu gol di laga final. Danny Jordaan se­laku Ke­tua Panitia Penyeleng­gara Pia­la Dunia 2010 menga­ku sa­ngat pu­as setelah laga fi­nal Piala Dunia pertama di ta­nah Afrika dapat berjalan sukses.

Jordaan merasa ada perasaan suka duka saat para suporter mem­beri dukungan untuk ke­dua tim setelah wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir.

“Setengah diri saya merasa ada di Belanda dan lainnya di Spanyol. Namun saya merasa hebat. Gelaran Piala Dunia yang diminati jutaan orang du­nia telah berakhir dan sekarang dunia tahu bahwa negara ini punya kapasitas dan kemampu­an untuk menyajikan sebuah pagelaran dunia,” kata Jordaan kepada football 365.co.za.

Dalam laga final yang diada­kan di stadion Soccer City, Jo­hannesburg tersebut, Jordaan tak henti-hentinya memuji per­siapan negaranya untuk me­nyam­but laga terakhir tersebut.

“Merupakan laga final dan upacara penutupan yang me­nak­jubkan.Teriakan para su­porter juga sangat luar biasa. Stadionnya juga sangat indah. Saya rasa saya belum pernah melihat stadion yang seindah ini di dunia,” tuturya.

Jordaan juga menambahkan, “Saya yakin jutaan orang di du­nia yang menonton akan sangat terkesan dengan apa yang ter­jadi malam ini.”

Malam itu, Jordaan juga ber­kesempatan bertemu dengan bekas Presiden Afsel Nelson Mandela yang akhirnya memu­tuskan hadir. Sayangnya, kare­na kondisinya kesehatannya yang kurang baik, Mandela ha­nya datang sebentar tepat sebe­lum perayaan penutupan dimu­lai untuk menyambut para fans.

“Itu menakjubkan. Saya ber­temu Mandela di dalam mobil dan hal pertama yang dia kata­kan adalah ‘Danny, saya sangat se­nang berada disini’ dan dia ter­senyum lebar. Sungguh spe­sial dia ingin datang hanya un­tuk me­nemui kami rakyat Af­rika. Kami akan sangat berte­rima kasih un­tuknya karena te­lah datang ke mo­men yang luar biasa ini.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar