Rabu, 21 Juli 2010

Seputar piala dunia 2010

Webb Masih Stress

Cukup sudah kritik kepada Howard Webb. Dia sudah terbebani oleh proteksi FIFA dan tekanan atmosfir Piala Dunia yang begitu tinggi.

Kepemimpinan Webb pada Final Piala Dunia 2010 memang terus dipergunjingkan. Tapi si­kap penggila bola yang kerap me­­nyudutkan wasit saat pihak­nya dikalahkan tentu tidak bisa di­tolerir. Diluar masalah profe­sio­nalisme, harus diakui bahwa wa­sit juga manusia dan punya ke­terbatasan. Pendapat ini diakui oleh Gelandang Belanda Nigel De Jong. Menurut dia, korps pe­ng­adil termasuk Webb, di event sebesar Piala Dunia sudah ba­nyak terbebani dan sulit fokus. Apa­lagi Jong menganalisa, wasit tidak bisa leluasa karena terlalu dikekang FIFA.

“Sekarang, tekanan kepada wasit begitu besar. Ada sangat ba­nyak peraturan dari FIFA un­tuk mengatur apa yang seharus­nya dilakukan wasit. Akan lebih mudah bila mereka berkonsen­tra­si kepada peraturan dasar (se­pak bola) dan perwasitan,” ujar De Jong.

Sebelum final antara Belanda dan Spanyol digelar, FIFA me­mang mewanti-wanti Howard Webb untuk mengambil keputu­san dengan bijaksana dan tegas. Pesan itu merupakan tekanan ka­rena pada dasarnya Webb pasti sudah memahami pekerjaannya.

Belakangan, pesan FIFA ter­bukti tak membantu pekerjaan Webb. Dia tetap mengambil se­jumlah keputusan kontroverial dan mendapat kecaman.

“Ini terjadi karena meski mengetahui pekerjaannya, Webb manusia yang tak selalu berada dalam kondisi 100 persen atau ber­ada di posisi yang membuat­nya bisa selalu melihat peristiwa secara jelas,” imbuh De Jong.

De Jong menjelaskan, banyak­nya peraturan untuk wasit seakan menjadi legitimasi bagi pemain menanggalkan sportivitas dan nilai moral lainnya dan fokus ha­nya pada usaha mengejar keme­nangan karena merasa semua tanggung jawab akan proses dan kualitas permainan berada di ta­ngan wasit. Menurutnya, se­mua orang yang ada di lapangan tahu status dan peran mereka masing-masing dan dengan begitu FIFA tak perlu lagi menambahinya.

“Mungkin aku sedikit kuno, tetapi ketika Anda melihat bagai­mana sepak bola zaman dulu, ada banyak pelanggaran buruk dan tak seorangpun meniup peluit.

(Pelanggaran) adalah bagian permainan. Sekarang, FIFA mun­­­cul dengan peraturan-per­atu­­­ran itu dan permainan tak lagi me­narik bagi pemain. Biarkan sepak bola tetap menjadi sepak bola,” paparnya.

Menyikapi kritik yang diala­mat­kan kepadanya, Webb tidak mau berkomentar banyak. Wasit yang dulunya seorang Polisi itu hanya menjelaskan, laga yang berlangsung hingga 120 menit itu merupakan saat-saat tersulit sepanjang karirnya.

“Minggu malam (waktu Afri­ka Selatan) merupakan dua jam tersulit sepanjang karir saya,” ce­tus Webb dilansir oleh Daily Mail.

“Saya benar-benar lelah, seca­ra fisik maupun emosional. Un­tungnya, FIFA begitu mendu­kung saya. Bukan hanya menge­nai laga final, tapi performa ke­seluruhan kami (bersama asisten wasit Mike Mullarkey & Darren Cann - red) selama turnamen,” imbuhnya.

Webb tercatat mengeluarkan 9 kartu kuning kepada skuad Bert van Marwijk dan 5 kepada Iker Casillas Cs. Wasit 39 tahun juga mengusir John Heitinga setelah menerima kartu kuning kedua akibat pelanggaran terhadap An­dres Iniesta. Pasukan Oranje meng­kritik kepemimpinan Webb dan menuduhnya terlalu berpi­hak kepada Spanyol. Tanda ta­nya pun diarahkan kepada Webb yang tidak mengeluarkan kartu merah kepada Nigel De Jong atas tendangan kung fu nya ke dada Xabi Alonso.



Sepp Blatter Kutuk Teror Bom Uganda

Presiden FIFA Sepp Blatter mengutuk pemboman di Uganda yang menewaskan 70 orang yang sedang menonton pertandi­ngan final Piala Dunia. Blatter juga bermimpi agar sepak bola menjadi suatu kekuatan untuk kebaikan di seluruh dunia.

“Anda tidak dapat menghen­tikan serangan, kejahatan dunia, bahkan pada saat kita berpikir bahwa selama Piala Dunia, dunia mestinya telah berhenti dari ke­kisruhan berlatar emosi,” kata orang nomor satu badan sepak bola dunia itu, kemarin.

Pemerintah Uganda menya­­lahkan kaum Islamis Somalia atas dua serangan di Kampala yang membunuh para pengge­mar sepak bola yang sedang non­ton pertandingan final Piala Du­nia Minggu malam. Dalam per­tandingan tersebut Spanyol me­ng­alahkan Belanda 1-0 di per­pan­jangan waktu.

Atas pertanyaan apakah sera­ngan itu merusak kebahagiaan Afrika atas keberhasilan turna­men tersebut, Blatter menga­ta­kan, “Saya sangat sedih dan saya benar, benar sangat tersentuh saat pagi ini saya mendengar tentang berita ini.”

Tetapi ia menambahkan, “Da­patkah Anda mengaitkannya dengan Piala Dunia saya tidak tahu. Secara alami itu adalah sua­tu momen ketika Piala Dunia di­tayangkan di televisi, tetapi apa­kah ini sesuatu yang ada kai­tannya dengan sepak bola atau ti­dak? Ini bukan urusan kami un­tuk menyelidikinya.”

Blatter menegaskan, tindak kekerasan tidak bisa menjadi tang­­gung jawab lembaga inter­na­­­sional apapun. “Kami hanya dapat me­nantikan gerakan sepak bola yang baik dapat dihasilkan di dunia kami,” pungkasnya.



Marah Tapi Nggak Depresi


DIEGO MARADONA/IST



Jakarta, RMOL. Argentina mengalami ke­ka­lahan telak oleh Jerman di ba­bak perempat final dengan skor 4-0. Kekalahan memalu­kan tersebut memunculkan ru­mor sang pelatih Diego Mara­dona depresi dan mengguna­kan kem­bali obat-obatan terla­rang sete­lah terakhir kali ber­henti mema­kainya enam tahun lalu.

Namun, dokter pribadi Die­go Maradona membantah se­gala pemberitaan yang menye­butkan pelatih Argentina terse­but mengalami depresi, dan kem­bali menggunakan obat ter­­larang setelah gagal mem­bawa Albiceleste meraih juara di Piala Dunia 2010.

Dr Alfreo Cahe dalam wa­wan­cara radio yang dilansir AP mengatakan, saat ini Maradona baik-baik saja meski masih agak terpukul karena hasil bu­ruk yang didapat di Afsel. Saat ini pemain yang terkenal de­ngan gol Tangan Tuhan terse­but sedang mempertimbang­kan untuk meneruskan jabatan­nya sebagai arsitek Argentina atau tidak.

“Dia sedang terpukul, itu wa­jar. Tapi dia tidak terlalu de­pre­si. Tak seperti yang disebutkan mereka (media), bahwa dia kem­bali ke penyakit lamanya. Sebuah berita yang konyol,” tegas Cahe.

 “Seperti dia (Maradona) bi­lang, itu adalah pertandingan yang aneh. Saya awalnya ber­pikir akan melihat dia dalam kon­disi terburuk, ternyata ti­dak. Saya melihat dia terme­nung. Dia tidak menyesali ke­kalahan itu, tapi marah karena kemenangan tak berpihak ke­pada dirinya,” ungkap Cahe.

Sejak pulang dari Afrika Se­latan, Maradona memang be­lum menampakkan diri lagi ke publik. Maradona mengatakan dirinya mungkin akan mundur dari kursi kepelatihan. Namun, Cahe mengaku tidak mengeta­hui apa pun tentang rencana Maradona.

AFA (Federasi Sepakbola Ar­gentina) sendiri telah me­nya­takan, keputusan untuk te­tap menjadi pelatih atau mun­dur sepenuhnya berada di ta­ngan Maradona. Ia masih me­miliki kontrak hingga 2011 di mana Argentina menjadi tuan rumah Copa America.

Soal masalah ini, Cahe me­ngaku tidak mengetahui apa­pun soal rencana Maradona ke­depannya. “Diego sudah mem­berikan kami kesenangan. Dia sedang berpikir tentang masa depannya di sepakbola,” pung­kas Cahe.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar