Rabu, 21 Juli 2010

Seputar piala dunia 2010

Inggris Gagal Rooney Tumbal


WAYNE ROONEY




Jakarta, RMOL. Tim “Tiga Singa” Inggris gagal total di Piala Dunia 2010. Mereka tersingkir secara memalukan setelah ditaklukkan Jerman 1-4 di babak 16 besar. Bekas manajer Liverpool Gerard Houllier mengkambing hitamkan Wayne Rooney.

Houllier menilai striker andalan Manchester United tersebut sama sekali tak mampu mengatasi tekanan dan ekspektasi publik sehingga gagal menampilkan performa terbaiknya di Piala Dunia Afrika Selatan.

“Mungkin penyebab dari Inggris tak bisa tampil bagus di Piala Dunia adalah para pemain bintang yang tidak menunjukkan sesuatu seperti harapan banyak pihak,” jelas Houllier seperti dikutip The Sun.

Rooney memang tampil buruk di Piala Dunia 2010 lalu. Kendati selalu dipasang sebagai starter, dia tidak menyumbang satu gol pun bagi timnya. Hal ini berbanding terbalik saat dia membela klub Setan Merah dimana dirinya sukses menyumbang 34 gol dari semua ajang yang timnya ikuti di musim kompetisi lalu.

“Saya pribadi berpikir mengenai Rooney. Dia adalah pemain yang luar biasa, tapi apakah dia mengalami kelelahan atau tidak berada di performa terbaiknya saya tak tahu. Jika saya Rooney, yang merupakan pemain terbaik versi saya, bisa mencetak sejumlah gol, mungkin hasilnya akan lain,” kata Houllier yang sekarang menjabat sebagai direktur teknik Federasi Sepakbola Prancis.

“Dan jika Anda memban­dingkan tim lain yang memiliki satu atau dua penuntas serangan yang baik, seperti Jerman, Belanda atau Spanyol, mereka biasanya bisa melangkah jauh. Lihat saja Uruguay yang punya Diego Forlan,” paparnya lagi.

Piala Dunia 2010 merupakan Piala Dunia kedua bagi Rooney. Empat tahun lalu, striker bertubuh gempal tersebut juga gagal total di Jerman. Dari lima pertandingan, tak sekali pun Rooney mampu membobol gawang lawan. Total, Rooney telah membela “The Three Lions” dalam 64 pertandingan dengan torehan 25 gol. 


Kontrak Saadane Diperpanjang


RAABAH SAADANE



Jakarta, RMOL. Usai kegagalan di Piala Dunia 2010, pelatih Raabah Saadane rupanya masih dipercaya untuk melatih Aljazair. Federasi Se­pak­bola Aljazair sepakat untuk mem­perpanjang kontrak Saa­dane sampai dua tahun ke depan.

Tak hanya Saadane, dua asis­tennya, Djelloul Zohir dan Ha­cene Belahdji, juga mendapat perpanjangan kontrak yang ma­na durasinya hingga berak­hir­nya Piala Afrika 2012. Na­mun untuk jajaran manajemen atas, federasi sepakbola Alja­zair akan melakukan sejumlah perubahan dengan mencari ma­najer tim yang baru, juga ma­na­jer umum.

Sosok Saadane memang tak bisa dilepaskan dari dunia Se­pakbola Aljazair. Setelah sem­pat empat kali menangani tim nasional Aljazair, dia kembali di­percaya menjadi pembesut ne­gara bekas jajahan Prancis itu di Piala Dunia 2010 yang di­gelar di Afsel lalu.

Piala Dunia 2010 merupakan Piala Dunia kedua bagi Saa­da­ne setelah pernah mengantar skuad Rubah Gurun di putaran final Piala Dunia 1986. Namun mereka tersingkir di fase grup setelah tidak pernah menang sama sekali dan hanya menge­mas satu poin. Prestasi terbaik mereka adalah menahan seri Inggris 0-0.

Saadane, yang juga pernah mengasuh timnas Yaman, men­jabat pelatih Aljazair meng­gan­tikan pelatih sebelumnya Jean Michel Cavali. Asosiasi Sepak­bola Aljazair memberhentikan pria asal Prancis itu diberhen­tikan dari jabatannya lantaran ga­gal lolos kualifikasi Piala Af­rika 2008 di Ghana.

Saadane sebelumnya sudah empat kali melatih Les Fen­necs, julukan Aljazair, di tahun 1981-1982, 1985-1986, 1999 dan 2003-2004. Bekas pelatih klub lokal Raja Casablanca, Etoile Sportive du Sahel dan ES Setif ini sebelumnya sukses mengantar Aljazair lolos ke Pia­la Dunia 1986.

Di putaran final Meksiko 1986, negara tempat kelahiran Zinedine Zidane ini hanya bisa mengemas satu poin dari tiga pertandingan Grup D. Saat itu Aljazair menahan imbang Ir­landia Utara 1-1 di Guada­lajara lewat gol tendangan bebas Dja­mel Zidane.

Sebelum bermain untuk Ren­nes, saat masih aktif ber­ma­in Saadane pernah mem­­perkuat sejumlah tim lo­kal seperti MSP Batna, MO Cons­tantine, JS El Biar dan USM Blida. 


Presiden Brazil Bahas Masalah Samba

Brazil sebagai tim favorit juara harus menerima kenyataan pahit setelah gagal kembali mengukir prestasi di Piala Dunia 2010. Kegagalan tersebut rupa­nya mendapatkan perhatian dari presiden negara tersebut, Luiz Ina­cio Lula da Silva. Lula pun me­mbahas Samba, menyangkut faktor pemain dan pelatih.

Laju Brazil di Piala Dunia Af­sel dihentikan Belanda di per­empat final dengan skor 1-2. Tak hanya kalah, Brazil juga harus menerima kesialan lainnya saat Felipe Melo diganjar kartu me­rah oleh wasit.

Catatan Brazil di babak grup adalah dua kali menang dan se­kali imbang, membukukan lima gol dan kebobolan dua gol.

Presiden Lula menilai bahwa tim asuhan Dunga merupakan Samba yang paling rapuh dan paling lemah. Dikutip dari As­so­ciated Press, presiden Brazil se­jak tahun 2003 itu menilai bah­wa Selecao membutuhkan “pe­main generasi baru”.

Lula berpendapat yang mem­buat tim Brazil yang sekarang lemah adalah banyaknya pemain Brazil yang meninggalkan tanah airnya dan memperkuat klub luar negeri di usia sangat muda. Lula berharap adanya hukum yang mem­batasi usia pemain muda un­tuk bermain di klub luar negeri.

Soal pelatih, Lula menilai ada tiga kandidat yang cocok untuk menggantikan Carlos Dunga yang dicopot pasca kegagalan meraih trofi keenam Piala Dunia.

“Kami memerlukan profesio­nal sejati yang paham bagaimana menjadi pelatih. Luiz Felipe Sco­lari punya kualitas, Wander­ley Luxemburgo lebih dari seka­dar memiliki kompetensi, dan Ma­no Menezes adalah ahli stra­tegi yang ulung dan berhasil mem­bawa Corinthians promosi di musim 2008,” tukasnya seper­ti dilansir dari Xinhua.

Federasi Sepakbola Brazil (CBF) sendiri rencananya akan mengumumkan pelatih anyar bagi juara dunia lima kali itu pa­da akhir bulan ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar