Selasa, 20 Juli 2010

Seputar Piala dunia 2010

Bola Final Piala Dunia Terjual Rp 7,5 Miliar







Jakarta, RMOL. Sebuah grup pendukung La Furia Roja Spanyol memena­ngi lelang bola final Piala Du­nia 2010, Jobulani yang digelar di situs eBay. Bola tersebut ter­jual dengan harga 48.200 po­und­s­terling atau sekitar Rp 7,5 miliar rupiah.
Rencananya, uang hasil pen­jualan bola Jobulani, yang me­ru­pakan plesetan dari Jabulani ter­sebut tersebut akan disum­bang­­kan kepada Yayasan 46664 milik Nelson Mandela untuk di­guna­kan dalam program pendi­dikan dan kemanusiaan di Afrika.


Lelang bola buatan Adidas yang mengundang banyak kon­troversi selama gelaran Piala Du­nia Afrika Selatan berlang­sung tersebut rupanya menda­pat respon positif dari pengun­jung situs eBay.

Tercatat bahwa ada 133 pe­na­war dari 55 negara yang ikut lelang tersebut. Ruth Szy­s­zko­wski dari eBay mengatakan bo­la Jobulani laku dengan nilai ting­gi karena kontroversi atas bo­la tersebut dan juga lembaga sosial yang akan mendapat ha­sil penjualannya.

“Barang unik yang memiliki nilai kenangan dalam olahraga selalu menjadi barang populer di eBay,” ujar Szyszkowski.

Jabulani -nama resmi bola yang digunakan saat Piala Du­nia 2010- memang menim­bul­kan banyak pro dan kontra dari berbagai pihak. Kiper Italia Gi­anluigi Buffon menyatakan bola tersebut tidak memenuhi syarat dan tak seharusnya digunakan untuk kompetisi tingkat terting­gi seperti Piala Dunia.

Badan antariksa NASA pun ikut-ikutan memprotes Jabula­ni. Menurut mereka, Jabulani sulit diprediksi ketika bergerak dengan kecepatan 44 mil per jam. penyebabnya adalah bo­bot bola yang terlalu ringan, yak­ni hanya 440 gram. Bola dengan seberat itu, maka akan meluncur kurang konsisten akibat knuckle effect atau efek buku.

Namun Adidas menegaskan bola yang diberi teknologi ceng­­kram itu memungkinkan ten­da­ngan yang stabil dengan ceng­kraman yang bagus dalam kon­disi apapun.

Bola Jobulani digunakan di final Piala Dunia 2010 antara Spanyol kontra Belanda. Spa­nyol akhirnya sukses menak­lukkan Belanda lewat gol tung­gal Andres Iniesta dan mengan­tarkan Torres Cs untuk pertama kalinya meraih Piala Dunia.



Mereka Dicaci dan Dipuji

Atmosfer Piala Dunia memang sangat kuat. Ketegangan tidak hanya mendera para pemain, para pendukung, sampai tokoh politik juga dilanda ketegangan dan demam akut.

Tidak heran, saat negara-negara menyelesaikan tugasnya di Afsel, ekspresi dan reaksi ragam pihak seolah luber dalam sebuah prosesi sambutan. Di beberapa negara, salah satunya sang juara dunia Spanyol, reaksi warganya sangat antusias saat menyambut La Furia Roja pulang kampung.

Situasi berbeda tapi cukup menarik terjadi juga bagi tim-tim yang berguguran dan harus angkat koper lebih cepat. Mereka membawa duka meski ada yang tetap disambut sebagai pahlawan. Berikut ini beberapa “wajah” sambutan publik terhadap negaranya yang pulang kampung.



Spanyol: Parade Sang Juara
Tiba di bandara Barjas-Madrid, para pemain disambut kibaran bendera dan yel-yel Champions begitu membahana. Iker Casillas adalah pemain pertama yang keluar dari pesawat dan memegang trofi Piala Dunia yang sukses mereka raih. Disusul oleh sang pelatih Vicente del Bosque. Sementara ke-23 pemain dan staff teknik tim Spanyol akan menghadiri resepsi yang digelar oleh Perdana Menteri Spanyol Jose Luis Rodriguez Zapatero di kediaman resminya. Setelah melakukan resepsi, skuad La Furia Roja melakukan parade di jalan jalan utama Madrid. Mereka membawa trofi dengan menggunakan bus terbuka sambil diiringi ribuan massa yang menyemut.



Uruguay: Dipuji Presiden
Hanya bisa meraih posisi keempat, skuad La Celeste tetap disambut hangat ribuan pendukungnya. Demi menyambut Diego Lugano dkk, suporter tak memperdulikan hawa dingin yang menusuk tulang. Tak hanya warga biasa. Presiden Uruguay Jose Mujica juga ikut menyambut kehadiran Oscar Washington Tabarez dan pasukannya. Dihadapan puluhan ribu warga, Mujica menyatakan rasa terima kasihnya kepada Lugano dkk yang berhasil mengharumkan nama Uruguay di pentas dunia. “Kalian telah memberi kami pelajaran dalam hal keberanian dan memberi kami harapan untuk bermimpi,” ujar sang Presiden.



Jerman: Nggak Mau Meriah
Ribuan fans timnas Jerman telah menunggu kedatangan skuad Joachim Loew di bandara Frankfurt. Meski hanya mampu meraih posisi ketiga, fans tetap menganggap Philipp Lahm dan kawan-kawan tetap pantas mendapat sambutan luar biasa. Namun, bukannya menemui ribuan fans yang telah menunggu mereka, para pemain timnas Jerman justru pergi meninggalkan bandara secara diam-diam dan tidak menemui fans, karena tidak menginginkan sambutan yang meriah. Kondisi ini jelas membuat ribuan fans yang sudah menunggu di luar bandara kesal dan kecewa.



Belanda: Segelintir Fan Saja

Berbeda dengan timnas Spanyol yang mendapat sambutan luar biasa, skuad De Oranje tiba di Belanda dengan sambutan dari segelintir fans saja. Menggunakan pesawat KLM Boeing 777, para pemain Belanda tiba di bandara Schiphol. Hanya ada sekitar 12 orang fans berat (Oranje Elftal) yang menyambut di depan pintu masuk bandara. Untuk menghargai perjuangan Belanda tampil di final Piala Dunia 2010, Wesley Sneijder dkk diarak menggunakan perahu boat di kanal Amsterdam.



Jepang: “Pahlawan Kami Okada”
Kisah Jepang yang berakhir sukses. Jepang terpaksa gagal melaju ke perempat-final setelah kalah dalam adu penalti melawan Paraguay. Namun kegagalan itu tak membuat The Blue Samurai pulang dengan kepala tertunduk. Mereka disambut bak pahlawan. Bagaimana tidak. Tim asuhan Takeshi Okada untuk pertama kalinya berhasil melewati babak penyisihan grup di Piala Dunia yang di luar Jepang. Tak heran bila kedatangan mereka di bandara Kansai disambut tidak kurang 4.000 suporter yang tiada hentinya mengelu-elukannya. Nyaris semua suporter mengenakan kostum warna biru. Pelatih Okada menjadi pusat perhatian. Suporter memasang banner, ‘Okada, Kebanggaan Jepang’ dan ‘Pahlawan Kami Okada’. Okada menanggapinya dengan meminta maaf karena Jepang gagal melangkah lebih jauh.



Argentina: Mereka Tetap Pahlawan

Argentina sesungguhnya tak pantas tersingkir di 16 besar. Meski lawan yang mendepaknya tidak kalah tangguh, Jerman. Hanya, Albiceleste kalah mencolok 4-1. Ini jelas kekalahan yang memalukan. Saking takutnya menjadi sasaran kekecewaan fans, tim Argentina memilih tiba di Buenos Aires di pagi hari saat warga masih terlelap. Bahkan area yang dilalui tim sudah ditutup dan ‘dibersihkan’ dari fans. Di luar dugaan, sambutan fans sungguh luar biasa. Ribuan suporter sudah memadati kantor pusat federasi sepakbola Argentina. Mereka mengelu-elukan pasukan Diego Maradona sebagai pahlawan. Sambutan yang mengejutkan sekaligus menegaskan posisi unik Maradona. Dia memang sosok tidak pernah salah di mata Argentina. Bahkan tak sedikit yang berharap Maradona dipertahankan sebagai pelatih timnas.



Ghana: Pahlawan Afrika

Tim Ghana pulang kampung dan disambut ribuan orang dengan bersuka cita. Jet yang mereka tumpangi disemprot dengan air dan digelar karpet merah untuk lajur perjalanan mereka. Orang-orang sudah membanjiri kawasan Bandara satu jam sebelum pesawat mendarat. Mereka meniup vuvuzela, bernyanyi dan memukul genderang dalam suasana mirip karnaval itu. Ghana, mendapat sambutan hangat dengan amat dikagumi di benua itu, setelah harapan negara Afrika terhadap Pantai Gading, Kamerun, Nigeria, Aljazair dan tuan rumah Afrika Selatan, kandas di babak penyisihan grup.



Italia: Tidak Lagi Dilempari Tomat
Tak ada lemparan tomat busuk yang menyambut kedatangan tim Italia. Berbeda saat tim Azzurri harus menjadi sasaran kemarahan suporter menyusul kegagalan memalukan di Piala Dunia 1966. Saat itu, Italia dipermalukan tim gurem Korea Utara. Padahal, nasib Italia di Afrika Selatan tak jauh berbeda. Gagal menang dari tim lemah Selandia Baru dan menduduki peringkat paling buncit sehingga tersingkir di babak penyisihan. Ironisnya, mereka berstatus juara bertahan. Saat mendarat di bandara Fiumicino, Roma, mereka sungguh beruntung karena hanya disambut sekelompok kecil yang sekadar melontarkan makian. “Memalukan,” teriak mereka. Kapten Fabio Cannavaro yang mengenakan kacamata hitam hanya diam saja tak bereaksi saat mendorong troli. Sementara Fabio Quagliarella hanya berucap, “Banyak yang kecewa. Jadi bisa dipahami (reaksinya).”



Prancis: Audiensi Dengan Nicolas Sarkozy
Lagi-lagi, pemerintah merasa perlu ikut campur dengan urusan se­­pakbola. Kali ini, Presiden Pran­cis Nicolas Sarkozy yang meminta agar aksi mogok pemain di Piala Dunia diusut lebih lanjut. Pemain melakukan mogok latihan menjelang laga terakhir melawan Afrika Selatan sebagai aksi solidaritas terhadap rekannya Nicolas Anelka yang dipulangkan. Sudah melakukan aksi mogok, kalah lagi. Prancis meninggalkan Afsel dengan kepala tertunduk. Tentu tak ada sambutan meriah dari fans. Bila perlu, mereka tiba secara diam-diam dan mendarat di Bourget, bandara kecil di luar kota Paris. Mereka tiba dengan pengawalan ketat dari kepolisian. Thierry Henry meminta audiensi dengan presiden untuk menyampaikan peristiwa yang terjadi. Namun, ia datang ke Elysee Palace dengan menyelinap lewat pintu samping. Mundurnya presiden federasi sepakbola Prancis dan pelatih Raymond Domenech setidaknya menyelamatkan muka timnas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar